Sunday, June 12, 2011

A story about a Muslim Marriage meeting


Bernikah Lebih Baik

Once there was a very handsome, pious, well educated young man, whose parents emphasised for him to get married. they had seen so many marriage proposals, and he had turned them all down. The parents thought it was becoming a little ridiculous or suspected that he may have someone else in mind.

However every time the parents left the girls house, the young man would always say ‘she’s not the one!’
The young man only wanted a girl who was religious and practicing, however one evening his mother arranged for him, to meet a girl, who was religious, and practicing.
On that evening, the young man, and girl, were left to talk, and ask each other questions. (As one would expect).
The young man, being a gentleman that he was allowed, the lady to ask first.
The young girl asked the young man so many questions, she asked about his life, his education, his friends, his family, his habits, his hobbies, his lifestyle, his enjoyment, his pastimes and his experiences.
The young man replied to all of her questions, without tiring, and politely, with a smile the young girl took up nearly all of the time, over an hour, and felt bad, and asked the young man do you have any questions?
The young man said, it’s ok. I only have 3 questions…
The young girl thought, wow, only 3 questions okay, shoot.
The young man’s first question was,
Who do you love the most in the world, someone who’s love nothing would ever overcome?
She said, this is an easy question; my mother, he smiled
second question, he asked, you said that you read a lot of Qur’an, could you tell me which Surahs you know the meaning of?

Hearing this she went red and embarrassed and said, I do not know the
meaning of any yet, but I am hoping to soon insha’allah I’ve just been a bit busy.
The third question the young man asked, was I have been approached for my hand in marriage, by girls that are a lot more prettier than you, why should I marry you?
Hearing this the young girl was outraged, she stormed off to her parents with fury, and said I do not want to marry this man he is insulting my beauty and intelligence.
And the young man and his parents, were once again, left without an agreement of marriage.
This time, the young mans parents were really angry, and said what did you do to anger that girl, the family were so nice, and pleasant and they were religious like you wanted. What did you ask the girl?? Tell us!
The young man said, firstly I asked her, who do you love the most? she said, her mother,
The parents said so, what is wrong with that??
The young man said, ‘no one, is Muslim, until he loves Allah, and his messenger (saw) more than anyone else in the world’
If a woman loves Allah and the Prophet (pbuh) more than anyone, she will love me and respect me, and stay faithful to me, because of that love, and fear for Allah (swt). and we can share this love, because this love is greater than lust for beauty.
The young man said, then I asked, you read a lot of Qur’an, can you tell me the meaning of any Surah?
And she said no, because I haven’t had time yet. so I thought of that hadith ‘ALL humans, are dead except for those who have knowledge’
She has lived 20 years and not found ANY time, to seek knowledge, why would I marry a woman, who does not know her rights, and responsibilities, and what will she teach my children, except how to be negligent, because the woman IS the madrasa (school) and the best of teachers.
And a woman who has no time for Allah, will not have time for her husband.
The third question I asked her was, that a lot of girls, more prettier than her, had approached me for marriage, why should I choose you?
That is why she stormed off, getting angry.
The young man’s parents said that is a horrible thing to say, why would you do such a thing, we are going back there to apologise.
The young man said I said this on purpose, to test whether she could control her anger.
The Prophet (saw) said ‘do not get angry, do not get angry, do not angry’ when asked how to become pious; because anger is from Satan.
If a woman cannot control her anger with a stranger she has just met, do you think she will be able to control it with her husband??

So, the moral of this story is, a marriage is based on,
knowledge, not looks,
practice, not preaching,
Forgiveness, not anger,
spiritual love, not lust.
and compromise

One should look for a person who
1) Has love for Allah (swt) and the messenger (saw)
2) Has knowledge of the deen, and can act upon it.
3) can control her anger and another important and crucial factor. that she be
4) willing to compromise.
And it goes both ways, so women seeking a man, should look for the same things.
Insha’allah, may Allah make every marriage a success, and let us create Love for Allah and his messenger(saw) so that Allah can bless us, and create love in our lives.

Our beloved prophet (may peace be upon him) said
  There is no better structure founded in Islam other than marriage.

Allah berhak beri hidayah walaupun terhadap insan lakukan kejahatan

 

ALLAH berfirman yang bermaksud: “Sesiapa yang Allah kehendaki mendapat hidayah nescaya dilapangkan dadanya untuk menerima Islam dan sesiapa yang dikehendaki sesat nescaya dijadikan dadanya sempit dan sesak seolah-seolah naik ke langit. Demikianlah Allah menimpakan kehinaan kepada orang yang tidak beriman.” (Surah al-An’am, ayat 125).

Allah Maha Berkuasa untuk mengurniakan petunjuk dan hidayah-Nya kepada yang dikehendaki-Nya. Hanya dengan petunjuk dan hidayah Allah saja dapat mengubah manusia dan kehidupannya dari kekufuran kepada keimanan, kemaksiatan kepada ketakwaan, kezaliman kepada keadilan, kegelapan kepada cahaya kebenaran dan kegelisahan kepada ketenangan jiwa.

Hidayah itu ialah petunjuk yang dikurniakan Allah kepada manusia untuk mencapai kesejahteraan serta kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Islam menganjurkan umatnya supaya sentiasa memohon hidayah petunjuk daripada Allah ke arah jalan yang benar.
Lebih-lebih lagi perjalanan hidup berliku yang ditempuhi setiap insan menuntut ketabahan, kesabaran dan pertolongan Ilahi supaya dia berjaya dalam hidup. Oleh itu, Islam mensyariatkan amalan berdoa dan memohon petunjuk daripada Allah.
Hidayah petunjuk yang dianugerahkan Allah sebenarnya tidak boleh diukur berdasarkan keadaan lahiriah semata-mata. Sebaliknya, ia bergantung kepada keimanan dan ketakwaan yang bertapak kukuh dalam jiwa. Dalam erti kata lain, Allah mengurniakan hidayah kepada hamba yang beriman dan bertakwa.
Hidayah Allah tidak ada kaitan dengan hubungan pertalian darah atau kekeluargaan. Seseorang yang taat dan hidup bahagia dengan hidayah Allah, tidak semestinya anaknya juga begitu. Contohnya, Nabi Nuh dan anaknya serta Nabi Muhammad SAW dengan bapa saudaranya, Abu Lahab.
Ada juga orang fasik yang sentiasa bergelumang dosa tetapi anaknya seorang yang salih dan patuh ajaran Islam. Ini berlaku kepada Nabi Ibrahim dengan ayahnya, pengukir patung berhala.
Oleh sebab itu, kita tidak boleh menyangka orang yang selalu melakukan kejahatan tidak akan mendapat hidayah Allah kerana hanya Allah yang berkuasa memberi hidayah kepada sesiapa dikehendaki-Nya.
Nabi dan rasul, tugasnya menyampaikan kerana tidak ada siapa yang dapat memberi petunjuk melainkan Allah.
Firman Allah yang bermaksud: “Tidaklah kamu diwajibkan (wahai Muhammad) menjadikan mereka (yang kafir) mendapat petunjuk, (kerana kewajipanmu hanya menyampaikan petunjuk) akan tetapi Allah juga yang memberi petunjuk (dengan memberi taufik) kepada sesiapa yang dikehendaki-Nya (menurut undang-undang peraturan-Nya). Dan apa juga harta halal yang kamu belanjakan (pada jalan Allah) maka (faedahnya dan pahalanya) adalah untuk diri kamu sendiri. Dan kamu pula tidaklah mendermakan sesuatu melainkan kerana menuntut keredaan Allah. Dan apa juga yang kamu dermakan dari harta yang halal akan disempurnakan (balasan pahalanya) kepada kamu, dan (balasan baik) kamu (itu pula) tidak dikurangkan.” (Surah al-Baqarah, ayat 272)
Ibnu Kathir dalam kitab tafsirnya, Tafsir al-Quran al-Azim ada menyebut sebab turunnya ayat kerana ada beberapa orang Islam yang bersedekah kepada fakir miskin penduduk Madinah, kemudian setelah ramai bilangan yang masuk Islam, maka Rasulullah SAW menegah memberi sedekah kepada orang musyrikin.
Tujuannya ialah untuk menarik mereka supaya menganut Islam kerana Rasulullah SAW sangat mengambil berat akan hal ehwal mereka. Lalu turunlah firman Allah yang memerintahkan Baginda supaya terus memberikan sedekah kepada mereka.
Biarpun hidayah menjadi milik mutlak Allah, namun umat Islam dituntut untuk menyampaikan dakwah Islam kepada bukan Islam supaya beriman kepada Allah.
Dakwah yang baik dan berkesan hendaklah berpaksikan kepada tiga kaedah iaitu berdakwah secara hikmah atau bijaksana, memberi pengajaran atau contoh teladan baik dan bertukar fikiran atau berdialog dengan cara lebih baik.
Oleh itu, setiap Muslim perlu mempergiatkan usaha untuk berdakwah dan bersabar dalam menjalankan usaha dakwah Islamiah kepada bukan Islam supaya ia mencapai matlamat yang disasarkan iaitu keadilan Islam, keharmonian hidup serta kecemerlangan dalam hidup.
Hidayah dan petunjuk Allah akan sentiasa mengiringi setiap langkah dan jalan diterokai orang beriman dan bertakwa kepada-Nya dalam rangka untuk menegakkan kalimah Allah di muka bumi ini.
Oleh Engku Ahmad Zaki Engku Alwi

Masuk Syurga Kerana Bulu Mata

Diceritakan di Hari Pembalasan kelak, ada seorang hamba Allah sedang diadili. Ia dituduh bersalah, menyia-nyiakan umurnya di dunia untuk berbuat maksiat. Tetapi ia berkeras membantah. "Tidak! Demi langit dan bumi sungguh tidak benar. Saya tidak melakukan semua itu." "Tetapi saksi-saksi mengatakan engkau betul-betul telah menjerumuskan dirimu sendiri ke dalam dosa," jawab malaikat. Orang itu menoleh ke kiri dan ke kanan, lalu ke segenap penjuru. Tetapi anehnya, ia tidak menjumpai seorang saksi pun yang sedang berdiri.


Di situ hanya ada dia sendirian. Makanya ia pun menyanggah, "Manakah saksi-saksi yang kau maksudkan? Di sini tidak ada siapa kecuali aku dan suaramu." "Inilah saksi-saksi itu," ujar malaikat. Tiba-tiba mata hamba Allah tersebut bicara, "Saya yang memandangi." Disusul oleh telinga, "Saya yang mendengarkan." Hidung pun tidak ketinggalan, "Saya yang mencium." Bibir mengaku, "Saya yang merayu." Lidah menambah, "Saya yang mengisap." Tangan meneruskan, "Saya yang meraba dan meramas." Kaki menyusul, "Saya yang dipakai lari ketika diketahui orang akan maksiat tersebut.""Nah! Kalau kubiarkan, seluruh anggota tubuhmu akan memberikan kesaksian tentang perbuatan aibmu itu", ucap malaikat. Orang tersebut tidak dapat membuka sanggahannya lagi. Ia putus asa dan amat berduka, sebab sebentar lagi bakal dihumbankan ke dalam Neraka Jahanam. Padahal, rasa-rasanya ia telah terbebas dari tuduhan dosa itu. Tatkala ia sedang dilanda kesedihan itu, tiba-tiba terdengar suara yang amat lembut dari selembar bulu matanya: "Saya pun ingin juga mengangkat sumpah sebagai saksi.""Silakan", kata malaikat. "Terus terang saja, menjelang ajalnya, pada suatu tengah malam yang lengang, aku pernah dibasahinya dengan air mata ketika ia sedang menangis menyesali perbuatan buruknya. Bukankah nabinya pernah berjanji, bahawa apabila ada seorang hamba kemudian bertaubat, walaupun selembar bulu matanya saja yang terbasahi air matanya, namun sudah diharamkan dirinya dari ancaman api neraka? Maka saya, selembar bulu matanya, berani tampil sebagai saksi bahawa ia telah melakukan taubat sampai membasahi saya dengan air mata penyesalan."Dengan kesaksian selembar bulu mata itu, orang tersebut dibebaskan dari neraka dan dihantarkan ke syurga. Sampai terdengar suara bergaung kepada para penghuni syurga: "Lihatlah, Hamba Allah ini masuk surga kerana pertolongan selembar bulu mata."

Taubatlah dengan sebenar-benar taubat yang penuh penyesalan dan keikhlasan sebelum terlambat.. Allah itu Maha Pengampun

Sunday, April 24, 2011

10 Amalan Popular Tapi Songsang



Pernahkan anda bermuhasabah atau menilai dan menghitung kembali tentang amalan seharian. Kadang-kadang kita akan dapati amalan kita adalah terbalik atau bertentangan dari apa yang patut dilakukan dan dituntut oleh Islam. Mungkin kita tidak sedar atau telah dilalaikan atau terikut-ikut dengan budaya hidup orang lain. 
Perhatikan apa yang dipaparkan dibawah sebagai contoh amalan yang terbalik:-

1. Amalan kenduri arwah beberapa malam yang dilakukan oleh keluarga simati selepas sesuatu kematian (malam pertama, kedua, ketiga, ketujuh dan seterusnya) adalah terbalik dari apa yang dianjurkan oleh Rasulullah di mana Rasulullah telah menganjurkan jiran tetangga memasak makanan untuk keluarga simati untuk meringankan kesusahan dan kesedihan mereka.

Keluarga tersebut telah ditimpa kesedihan, terpaksa pula menyedia makanan dan belanja untuk mereka yang datang membaca tahlil. Tidakkah mereka yang hadir makan kenduri tersebut khuatir kalau-kalau mereka termakan harta anak yatim yang ditinggalkan oleh simati atau harta peninggalan simati yang belum dibahagikan kepada yang berhak menurut Islam?


Jangan lupa derma ketika ziarah mayat
2. Kalau hadir ke kenduri walimatul urus (kenduri kahwin) orang kerap salam berisi (hadiah wang yang diberi semasa bersalam). Kalau tak ada duit nak dikepit dalam tangan, maka segan ia nak pergi makan kenduri. Tetapi kalau ia menziarah orang mati, tidak segan pula salam tak berisi. Sepatutnya kalau menziarah keluarga si matilah kita patut memberi sedekah. Kalau ke kenduri kahwin, tak bagi pun tak apa kerana tuan rumah panggil untuk diberi makan bukan untuk ia menambah pendapatan.

3. Ketika menghadiri majlis pemimpin negara kita berpakaian cantik kemas dan segak tetapi bila mengadap Allah baik di rumah maupun di masjid, pakaian lebih kurang saja bahkan ada yang tak berbaju. Tidakkah ini suatu perbuatan yang terbalik.

4. Kalau menjadi tetamu di rumah orang dan diberi jamuan, kita rasa segan nak makan, malu-malu kucing kononnya malu dan beradab, sedangkan yang dituntut dibanyakkan makan dan dihabiskan apa yang dihidang supaya tuan rumah rasa gembira dan tidak membazir. Perangai tinggal makanan tak habis dah jadi budaya orang kita.

5. Kalau bersolat sunat di masjid amat rajin, tapi kalau di rumah, sangat malas. Sedangkan sebaik-baiknya solat sunat banyak dilakukan di rumah seperti yang dianjurkan oleh Rasulullah untuk mengelakkan rasa riak.

6. Bulan puasa adalah bulan mendidik nafsu termasuk nafsu makan yang berlebihan tetapi kebanyakan orang mengaku bahawa dalam carta perbelanjaan setiap rumah orang Islam akan kita dapati perbelanjaan di bulan puasa adalah yang tertinggi dalam setahun. Sedangkan sepatutnya perbelanjaan di bulan puasa yang terendah. Bukankah terbalik amalan kita?

7. Kalau nak mengerjakan haji, kebanyakan orang akan membuat kenduri sebelum bertolak ke Mekah dan apabila balik dari Mekah tak buat kenduri pun. Anjuran berkenduri dalam Islam antaranya ialah kerana selamat dari bermusafir, maka dibuat kenduri, bukan kerana nak bermusafir, maka dibuat kenduri. Bukankah amalan ini terbalik? (Ini mesti ada tujuan lain!!!).

8. Semua ibubapa amat bimbang kalau-kalau anak mereka gagal dalam periksa. Maka dihantarlah ke kelas tuisyen walau pun banyak belanjanya. Tapi kalau anak tak boleh baca Quran atau solat, tak bimbang pula bahkan tak mahu hantar tuisyen baca Quran atau kelas khas mempelajari Islam. Kalau guru tuisyen sanggup dibayar sebulan RM20.00 satu pelajaran 8 kali hadir tapi kepada Tok Guru Quran nak bayar RM15.00 sebulan 20 kali hadir belajar pun menggeletar tangan. Bukankah terbalik amalan kita? Kita sepatutnya lebih bimbang jika anak tidak dapat baca Al Quran atau bersolat dari tidak lulus periksa.

9. Kalau bekerja mengejar rezeki Allah tak kira siang malam, pagi petang, mesti pergi kerja. Hujan atau ribut tetap diharungi kerana hendak mematuhi peraturan kerja. Tapi ke rumah Allah (masjid) tak hujan, tak panas, tak ribut pun tetap tak datang ke masjid. Sungguh tak malu manusia begini, rezeki Allah diminta tapi nak memperhambakan diri padaNya segan dan malas.

10. Seorang isteri kalau nak keluar rumah samada dengan suami atau tidak, bukan main lagi berhias. Tetapi kalau duduk di rumah, masyaAllah, kain hamis berbau. Sedangkan yang dituntut seorang isteri itu berhias untuk suaminya, bukan berhias untuk orang lain. Perbuatan amalan yang terbalik ini membuatkan rumahtangga kurang bahagia.

Cukup dengan contoh-contoh di atas. Marilah kita berlapang dada menerima hakikat sebenarnya. Marilah kita beralih kepada kebenaran agar hidup kita menurut landasan dan ajaran Islam yang sebenar bukan yang digubah mengikut selera kita.

Allah yang mencipta kita maka biarlah Allah yang menentukan peraturan hidup kita.

Sabda Rasullullah SAW: "Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat." (Riwayat Bukhari)
 
Posted by tok_aji

Friday, April 22, 2011

Jangan Berputus Asa Dengan Berdoa



 
Alangkah ramai manusia yang bermohon kepada Tuhan supaya dimakbulkan segala yang diinginkan, namun tidak jua dimakbulkan. Kemudian manusia mengeluh dan bersangka buruk kepada Tuhan, lantas putus asa mencari keredhaan-Nya. Itulah hakikat manusia saban hari.

"berdoalah kepadaKu, dan berimanlah agar kamu memperoleh kebenaran."
(surah Al-Baqarah:186)

Kita tidak berdoa pun Allah sudah sedia mengetahui segala isi hati manusia.
"dan Allah mengetahui apa yang kamu rahsiakan dan apa yang kamu lahirkan."
(surah An-Nahl:19)

Jadi, mengapa masih perlu berdoa?
Berdoa sebagai tanda pengabdian diri kita sebagai hamba yang hina lagi dhaif kepada Allah, tidak ada tempat bergantung selainNya.
"cukuplah DIA sebagai tempat manusia bergantung harap dan tawakal."
(surah At-Taubah:129)

Tapi, mengapa masih tak termakbul juga doa?
Pandanglah diri sendiri, adakah kita lebih mencintai Allah daripada kesenangan duniawi? Cepat atau lambat dimakbulkan itu urusan Ilahi, kerana Dia Maha Mengetahui perkara yang terbaik bagi setiap makhluk ciptaan-Nya.
" dan apabila manusia ditimpa bahaya, Dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, Dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah Dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan."
(surah Yunus:12)

Sekiranya kita tidak dapat perkara yang dihajati, bersyukurlah dengan kondisi diri dinihari. Semakin dekat kita kepada Allah, semakin hebat dugaan. Itu membuktikan Allah sangat kasih kepada sekalian hamba-Nya, agar kita benar-benar ikhlas dalam mencari keredhaan-Nya serta tidak termasuk di dalam golongan yang lalai dan terbiar diabaikan.
Manusia yang diuji sedemikian rupa akan merasa manisnya iman, seolah-olah syurga sudah tersedia di hadapan mata, tapi ingatlah firman Allah dalam (surah Al-Baqarah:214) yang bermaksud:
"Ataukah kamu mengira bahawa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (dugaan) seperti (yang dialami) orang-orang yang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan dan digoncang (dengan berbagai cubaan), sehingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, "Bilakah datangnya pertolongan Allah?". Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat."
Sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat, benarlah doa itu senjata orang-orang mukmin. Yakinlah dengan sepenuh hati. Dunia bukan syurga yang dicari, nikmat kesenangan dunia hanya setitis air di lautan sahaja.
Posted by ahmadi

Kuat & Sihat

Rasulullah s.a.w. bersabda yang bermaksud:

Sabar Menolak Kemungkaran Satu Cabaran




Oleh ustaz Ahmad Baei Jaafar
 
Cabaran besar kepada umat Islam pada hari ini ialah menolak kemungkaran yang berada di hadapan mata. Semua itu memerlukan kesabaran yang jitu. Mungkin ramai yang boleh sabar dalam menempuh musibah yang melanda, tetapi mereka tidak boleh sabar untuk menahan rasa marah kepada orang yang menyebabkan musibah itu.
Hanya orang yang benar-benar beriman kepada Allah sahaja yang mampu sabar dalam semua keadaan kerana mereka mengetahui bahawa segala perkara yang berlaku ke atas dirinya adalah kehendak Allah. Sesuatu yang sudah ditakdirkan tidak dapat dielak lagi. Demikian orang yang taat, tidak akan berasa susah untuk mengerjakan segala perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya.
Tegasnya, orang yang mampu sabar itu adalah orang yang beriman. Firman Allah yang bermaksud:
“Dan orang-orang yang sabar dalam musibah, penderitaan dan dalam peperangan mereka itulah orang-orang yang benar imannya, dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (Surah al-Baqarah :177)
Persoalannya bagaimana cabaran ini harus dihadapi oleh umat Islam yang rata-ratanya belum begitu benar-benar beriman. Bagi menyelesaikan semua itu perhatikan pecahan sabar yang harus dimiliki oleh umat Islam.
1- Sabar (menahan) daripada kehendak syahwat perut dan kemaluan. Sabar ini disebut iffah.
2- Sabar dalam menghadapi musibah, lazimnya disebut sabar.
3- Sabar dalam keadaan kehidupannya yang serba cukup dan mampu. Sabar ini disebut mengawal nafsu.
4- Sabar dalam peperangan dan pertempuran. Sabar ini disebut syaja’ah (berani).
5- Sabar dalam mengekang kemarahan. Sabar ini disebut lemah lembut (al-hilmu).
6- Sabar menyimpan rahsia. Sabar itu disebut katum.
7- Sabar memiliki kelebihan dan kemewahan. Sabar ini disebut zuhud.
Antara tujuh sabar itu, dimanakah tahap anda? Kalau anda seorang lelaki yang diundang oleh seorang wanita ke rumahnya, mampukah anda menolaknya? Apabila anda berduaan tentu terdedah kepada keinginan seks, mampukah anda dan wanita itu mengekang nafsu masing-masing sedangkan peluang ke arah itu sudah terbuka luas? Inilah cabaran yang harus mereka lalui sebagai seorang muslim.
Percayalah jika anda dapat mengawal nafsu syahwat anda dan terus bertindak keluar dari rumah wanita tersebut, maka andalah lelaki yang sebenar-benar bersabar. Inilah lelaki yang dipelihara imannya dan inilah lelaki dijamin syurga. Begitu juga wanita tersebut jika dia mampu bertindak melindungi tubuhnya daripada disentuh lelaki, itulah wanita penyabar yang sudah pasti dijamin syurga.
Lelaki dan wanita dalam keadaan itu bukanlah calang-calang manusia kerana mereka boleh bersabar walaupun hati dan nafsu terlalu meruntun. Dengan kesabaran mereka itu maka layaklah mereka memasuki syurga Allah tanpa hisab.
Anda boleh menilai tahap sabar anda pada pecahan sabar di atas jika anda mahu. Tetapi ketahuilah tahap sabar ini sangat berkait dengan sejauh mana tinggi tahap iman anda. Imanlah yang menyebabkan anda boleh bersabar untuk menolak kemungkaran. Jadi, setiap orang Islam perlu memilki iman dan sabar pada tahap ini demi menghadapi cabaran masa kini.