Monday, September 17, 2012

Sedekah Boleh Ubati Pelbagai Penyakit...


Pada Khamis 23 Ogos 2012 jam 1.30 ptg kami sekeluarga dalam perjalanan pulang dari Kuala Terengganu ke Seremban. Radio dalam kereta pada ketika itu ialah saluran Pahang FM, rakaman ceramah oleh Ustaz Abdullah Mahmud. Ustaz Abdullah menceritakan sepatutnya bukan orang sihat yang beri sedekah kepada orang sakit yang mereka ziarahi, tetapi orang sakitlah sepatutnya memberi sedekah kepada orang sihat yang datang menziarahi mereka agar dengan sedekah itu sembuhlah penyakit mereka dengan izin Allah.
 
Mengubati penyakit dengan sedekah adalah ajaran Rasul saw. Banyak kisah di bawah ini bagaimana mereka yang sakit, setelah habis ikhtiar secara perawatan moden dan sebagainya, akhirnya mereka bersedekah dengan harapan Allah sembuhkan penyakit mereka atas sebab sedekah tadi. Bahkan ada kisah di bawah ini di mana Imam Masjid Jami’ur Ridhwan di Halab, Syiria yang habis ikhtiar merawat anaknya yang demam teruk, akhirnya dia teringat hadith Nabi mengenai sedekah boleh mengubati penyakit, lalu datanglah seekor kucing yang kelaparan, lantas disedekahkan kepada kucing tadi makanan. Dengan izin Allah disebabkan sedekah kepada seekor kucing, anaknya tadi terus sembuh.
 
SUBHANALLAH !
 
Kisah-Kisah Keajaiban Sedekah dalam Menyembuhkan Berbagai Penyakit
 
Rasulullah  bersabda :
“Obatilah orang yang sakit di antara kalian dengan sedekah.” (HR. Baihaqi)
 
“Ujian yang menimpa seseorang pada keluarga, harta, jiwa, anak, dan tetangganya bisa dihapus dengan puasa, shalat, sedekah, dan amar makruf nahi munkar.” (HR. Bukhari dan Muslim)
 
Syaikh Sulaiman Bin Abdul Karim Al-Mufarrij sebagaimana dikutip Al-Sofwah berkata:
 
“Wahai saudaraku yang sedang sakit, sedekah yang dimaksudkan dalam hadits ini adalah sedekah yang diniatkan untuk memperoleh kesembuhan. Boleh jadi, Anda telah banyak melakukan sedekah, tetapi hal itu tidak anda lakukan dengan niat untuk mendapatkan kesembuhan dari Allah Swt.
 
Di dalam Siyar A’lamin Nubala’ 8/407 disebutkan bahwa ada seorang laki-laki yang bertanya kepada ‘Abdullah bin Mubarak v tentang luka bernanah (bisul) yang keluar dari lututnya sejak tujuh tahun yang lalu. Ia telah mengobatinya dengan berbagai macam obat dan banyak bertanya kepada para dokter, tetapi belum sembuh juga. Maka beliau pun menjawab, “Pulanglah, lalu galilah sumur di tempat orang-orang yang membutuhkan air. Sesungguhnya aku berharap akan keluar mata air di sana , dan darahmu akan berhenti.” Lelaki itu pun melaksanakan perintah Ibnul Mubarok, maka ia pun sembuh.
 
Putrinya Sembuh Lantaran Sedekah
 
Ada sebuah kisah yang disampaikan oleh Syaikh Sulaiman Al-Mufarraj –-semoga Allah memberinya taufik–, bahwa seseorang telah bercerita kepada Syaikh perihal kisah ajaib yang dialaminya, ia mengatakan, “Aku memiliki anak perempuan yang masih kecil, yang terkena penyakit di tenggorokannya. Aku telah pergi bersamanya ke beberapa rumah sakit dan telah membeberkan jenis penyakit yang dialami anakku kepada banyak dokter, namun semuanya tidak bermanfaat. Sakitnya menjadi semakin bandel. Aku hampir saja ikut sakit lantaran memikirkan sakit anakku, yang menjadikan semua anggota keluarga tak bisa tidur. Kami telah menempuh langkah-langkah untuk meringankan sakitnya, hingga akhirnya kami merasa putus asa dari semua itu, kecuali dari rahmat Allah Ta’ala.
 
Sampai suatu ketika datanglah secercah harapan dan terbukalah pintu solusi. Ada seorang yang shalih menghubungiku dan mengingatkanku akan hadits Nabi :
“Obatilah orang yang sakit di antara kalian dengan sedekah.” (HR. Thabrani dan Baihaqi)
 
Aku berkata kepadanya, “Sungguh, aku telah banyak bersedekah.” Ia kembali berkata, “Bersedekahlah saat ini dengan niat agar putrimu mendapatkan kesembuhan.” Akhirnya, aku pun bersedekah dengan dilandasi kerendahan hati kepada salah seorang fakir, namun segala sesuatunya tak ada perubahan. Aku menginformasikan hal ini kepada orang shalih itu, dan ia berkata, “Anda termasuk orang yang memiliki banyak harta. Hendaklah sedekahmu seukuran dengan hartamu.”
 
Aku pun pergi untuk kedua kalinya, dan mobilku kupenuhi dengan beras, ayam dan barang yang baik-baik dalam jumlah yang besar, lalu kubagikan kepada orang-orang yang membutuhkan. Mereka pun bergembira dengan sedekahku. Dan subhanallah, tiba-tiba putriku menjadi sembuh total, alhamdulillah.
 
Penyakit Demam Tak Berdaya Melawan Sedekah
 
Syaikh Sulaiman Al-Mufarraj mengatakan bahwa kisah ini diceritakan oleh pelakunya sendiri, orang itu berkata kepada Syaikh, “Anakku mengeluhkan penyakit demam dan panas, serta ia tak mau makan. Aku pun pergi bersamanya ke beberapa klinik pengobatan, namun panasnya tak kunjung turun dan keadaannya semakin memburuk.
Aku masuk ke dalam rumah disertai perasaan gelisah, tidak tahu apa yang harus aku perbuat. Isteriku berkata kepadaku, “Hendaklah kita bersedekah untuknya.” Aku pun segera menghubungi via telepon seseorang yang memiliki jalinan hubungan dengan orang-orang miskin, aku berkata kepadanya, “Aku berharap Anda mau shalat ‘Ashar di masjid, dan mau mengambil dari tempatku 20 kantong beras dan 20 boks ayam, lalu hendaklah Anda membagikannya kepada orang-orang yang membutuhkan.”
 
Aku bersumpah demi Allah, tidak sampai lima menit sesudah aku menutup gagang telepon, tiba-tiba anakku telah berlari-lari, bermain-main, berlompatan di atas sofa, dan makan-makan hingga kenyang, serta ia telah sembuh total berkat karunia Allah dan selanjutnya berkat keutamaan sedekah. Dan, aku berpesan kepada orang banyak agar memberikan perhatian kepada sedekah, saat terkena berbagai penyakit.”
 
Diprediksi Mati, Allah Menyelamatkannya Dengan Sedekah
 
Syaikh ‘Abdul Hadi Badlah, Imam Masjid Jami’ur Ridhwan di Halab Syiria, pernah bercerita, “Di awal pernikahanku, Allah telah menganugerahkan kepadaku anak yang pertama. Kami sangat bergembira dengan anugerah ini. Akan tetapi, Allah  berkehendak menimpakan penyakit yang keras kepada anakku. Pengobatan seakan tak berdaya untuk menyembuhkannya, keadaan sang anak semakin memburuk, dan keadaan kami pun menjadi buruk karena sangat bersedih memikirkan keadaan buah hati kami dan cahaya mata kami. Kalian tentu tahu, apakah artinya anak bagi kedua orang tuanya, terutama ia adalah anak yang pertama!!
 
Perasaan buruk itu menyeruak di dalam hati, karena kami merasa tak berdaya memberikan pengobatan bagi penderitaan anak kami!!
Sehatnya kita memang merupakan perintah Allah dan ketentuan-Nya, namun kita memang harus mengambil langkah-langkah pengobatan dan tidak meninggalkan kesempatan atau sarana apa pun untuk mengobatinya.
 
Seorang yang baik menunjukkan kepada kami adanya seorang dokter yang berpengalaman dan terkenal, maka aku pun pergi bersama anakku kepadanya. Anakku mengeluhkam demam yang sangat tinggi, dan dokter itu berkata kepada kami, “Apabila panas anak Anda tidak turun malam ini, maka ia akan meninggal esok hari!!”
Aku kembali bersama sang anak dengan kegelisahan yang memuncak. Sakit menyerang hatiku, hingga kelopak mataku tak mampu terpejam tidur. Aku pun mengerjakan shalat, lalu pergi dengan wajah muram durja meninggalkan isteriku yang menangis sedih di dekat kepala anakku.
 
Aku terus berjalan di jalanan, dan tidak tahu apa yang harus aku perbuat untuk anakku!! Tiba-tiba aku teringat dengan sedekah, dan ingat dengan hadits Rasulullah n, tatkala beliau bersabda, “Obatilah orang yang sakit di antara kalian dengan sedekah.” Namun, siapa yang akan aku temui di waktu malam seperti ini. Aku bisa saja mengetuk pintu seseorang dan bersedekah kepadanya, tapi apa yang akan ia katakan kepadaku jika aku melakukan hal itu?
 
Tatkala aku berada dalam kondisi bimbang seperti itu, tiba-tiba ada seekor kucing lapar yang mengeong di kegelapan malam. Aku menjadi ingat dengan sabda Rasulullah n tatkala ditanya oleh seorang sahabat, “Apakah berbuat baik kepada binatang bagi kami ada pahalanya?” Beliau n menjawab, “Di dalam setiap apa yang bernyawa ada pahalanya” (Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim). Aku pun segera masuk ke rumahku, mengambil sepotong daging, dan memberi makan kucing itu.
 
Aku menutup pintu belakang rumahku, dan suara pintu itu bercampur dengan suara istriku yang bertanya, “Apakah engkau telah kembali kepadaku dengan cepat?” Aku pun bergegas menuju ke arahnya. Dan, aku mendapatkan wajah isteriku telah berubah, dari permukaan wajahnya telah menyiratkan kegembiraan!
 
Ia berkata, “Sesudah engkau pergi, aku tertidur sebentar masih dalam keadaan duduk. Maka, aku melihat sebuah pemandangan yang menakjubkan!!”
Dalam tidurku, aku melihat diriku mendekap anakku. Tiba-tiba ada seekor burung hitam yang besar dari langit yang terbang hendak menyambar anak kita, untuk mengambilnya dariku. Aku menjadi sangat ketakutan, dan tidak tahu apa yang harus aku perbuat? Tiba-tiba muncul kepadaku seekor kucing yang menyerang secara dahsyat burung itu, dan keduanya pun saling bertempur. Aku tidak melihat kucing itu lebih kuat daripada burung itu, karena si burung badannya gemuk. Namun akhirnya, burung elang itu pun pergi menjauh. Aku terbangun mendengar suaramu ketika datang tadi.
 
Syaikh ‘Abdul Hadi berkata, “Aku tersenyum dan merasa gembira dengan kebaikan ini. Melihat aku tersenyum, isteriku menatap ke arahku dengan terheran-heran.”
Aku berkata kepadanya, “Semoga semuanya menjadi baik.”
 
Kami bergegas mendekati anak kami. Kami tak tahu siapa yang sampai terlebih dulu, tatkala penyakit demam itu sirna dan sang anak mulai membuka matanya. Dan, pada pagi hari berikutnya, sang anak telah bermain-main bersama anak-anak yang lain di desa ini, alhamdulillah.
 
Sesudah Syaikh menyebutkan kisah menakjubkan ini, anak tadi -–yang telah menjadi pemuda berumur 17 tahun, serta telah sempurna menghafalkan Al-Quran dan menekuni ilmu syar’i–, ia menyampaikan nasihat yang mendalam kepada kaum muslimin di masjid orang tuanya, Masjid Ar-Ridhwan di Halb, di salah satu malam dari sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan yang penuh berkah.
 
  
 
Sedekah Bisa Sembuhkan Penyakit
 
SETIAP penyakit ada obatnya. Jika sebuah penyakit tidak sembuh juga meski sudah berobat ke mana-mana dan dengan berbagai macam obat, maka kemungkinan sang obat penyembuh belum ditemukan –hakikatnya tentu saja belum ada izin Allah Swt untuk kesembuhannya.
 
Dalam mengobati penyakit secara umum ada dua cara, yakni ikhtiar dan doa. Ikhtiar dilakukan dengan berobat ke dokter, meminum atau memakan obatnya, lalu disempurnakan dengan doa.
 
Namun belum banyak yang menyadari bahwa salah satu obat mujarab –sebut saja ‘obat ekstra’—bagi sebuah penyakit adalah sedekah, sebagaimana hadits: “Obatilah orang-orang yang sakit di antara kalian dengan bersedekah” (Hadits ini dihasankan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Shahih al-Jami’).
 
Dengan demikian, bersedekah, selain akan membuat harta kita berkah dan bermanfaat, jika bisa menjadi wasilah datangnya kesembuhan dari Allah Swt atas penyakit yang diderita.
 
Syaikh Sulaiman Bin Abdul Karim Al-Mufarrij sebagaimana dikutip Al-Sofwah berkata:
 
“Wahai saudaraku yang sedang sakit, sedekah yang dimaksudkan dalam hadits ini adalah sedekah yang diniatkan untuk memperoleh kesembuhan. Boleh jadi, Anda telah banyak melakukan sedekah, tetapi hal itu tidak Anda lakukan dengan niat untuk mendapatkan kesembuhan dari Allah Swt.
 
Oleh karena itu, coba Anda lakukan sekarang dan tumbuhkanlah kepercayaan dan keyakinan bahwa Allah Swt akan menyembuhkan diri Anda. Isilah perut para fakir miskin hingga kenyang, atau santunilah anak yatim, atau wakafkanlah harta Anda, atau melakukan sedekah jariah, karena sesungguhnya sedekah itu dapat mengangkat dan menghilangkan berbagai macam penyakit dan berbagai macam musibah dan cobaan…
 
Wahai saudaraku yang sedang sakit, janganlah Anda bakhil terhadap diri Anda sendiri. Sekaranglah waktunya untuk sedekah” (Shifatun ‘Ilaajiyyah Tuzilu Al-Amraadh bi Al-Kulliyyah).
 
Ada seseorang bertanya kepada Abdullah Bin Mubarak rahimahullah, tentang penyakit lututnya yang telah diderita sejak tujuh tahun. Dia telah melakukan bermacam usaha untuk mengobatinya dan telah bertanya kepada para dokter, tetapi belum merasakan hasil. Maka Abdullah Bin Mubarak rahimahullah, berkata kepadanya:
 
“Pergilah Anda mencari sumber air dan galilah sumur di situ karena orang-orang membutuh-kan air! Aku berharap ada air yang memancar di situ”.
 
Maka orang itu pun melakukan apa yang disarankan oleh beliau, lalu dia pun sembuh” (Shahih At-Targhib).*
 
_

Judi Musuh No1



Akhbar sudah mula memainkan peranan betapa judi ketika ini menjadi barah yang semakin hilang kawalan di kalangan umat Islam khususnya orang Melayu. Pemimpin negara, pihak berkuasa bila lagi hendak bertindak secara terancang dan bersepadu agar memenuhi pencapaian NKRA yang telah ditetapkan, sekiranya ada? Akhbar berbahasa Melayu juga , haruslah reti bahasa dengan tidak menyiarkan lagi iklan keputusan judi dan apa-apa yang berkaitan dengannya.

Ketagih selepas menang RM300
25 Ogos 2012 - “SAYA mula bermain judi roulette sejak awal tahun lalu selepas mengikut rakan ke pusat siber. Pada mulanya saya ingat dia mahu saya menemaninya melayari Internet. Bagaimanapun, saya terkejut sebaik melangkah masuk ke kafe siber itu kerana di dalamnya memang ada komputer tetapi semuanya untuk tujuan berjudi dengan menawarkan permainan berlainan. Rakan mengesyorkan saya mencuba judi roulette dan percubaan pertama menyebabkan saya habis RM50. Tidak puas hati, saya kembali ke pusat siber itu keesokannya dan bertuah apabila menang lebih RM300 dengan hanya bermodalkan RM30.

Melayu gila judi ‘on-line’
25 Ogos 2012 - Sebelum 2009, majoriti tahi judi gilakan ‘mesin kuda’ yang menawarkan pertaruhan meneka urutan kuda pertama dan kedua sampai di garisan penamat dalam setiap perlumbaan. Semua enam kuda bernombor dan berlari hanya ilustrasi grafik di atas skrin komputer. Bagaimanapun, keuntungan diraih jika menang dikatakan kurang lumayan. Cita rasa kini berubah, begitu juga teknologi. Kini perjudian ‘on-line’ pilihan mereka, terutama Melayu.

Ibu bapa perlu awasi kegiatan anak-anak elak terjebak pertaruhan siber
25 Ogos 2012 - “Kebanyakan pusat judi siber menawarkan pertaruhan serendah RM1. Jadi remaja terbabit berjudi secara kecil-kecilan antara RM5 hingga RM10. “Walaupun ada ketikanya mereka menang, kekerapan itu terlalu sedikit dan tanpa sedar, mereka sudah berbelanja ribuan ringgit,” katanya.


Mencari Si Soleh & Solehah



••► Sejumlah lelaki bertanya masih adakah wanita solehah di zaman ini?

••► Sejumlah wanita bertanya masih adakah lelaki soleh di era ini?

~► Kenapa tidak bertanya sudahkah diri ini berusaha menjadi soleh dan 
solehah?

»» Kerana jika kita sudah berusaha menjadi soleh dan solehah, maka kita akan
 yakin yang soleh dan solehah itu masih wujud. Dan akan menjadi masih ramai
 lelaki soleh dan wanita solehah jika setiap dari kita terhitung menjadi salah
 satunya ツ INSYAALLAH....:")

Tempat Tercantik

MasyaAllah! Ini lah tempat PALING CANTIK di dunia dan kini bakal dikunjungi berjuta2 manusia pilihan Allah SWT.. 

Monolog HATI...



HATI yang di dalam KESAKITAN,
..kita TAMPAL dengan KETABAHAN pengubat DIRI..
HATI yang di dalam PENGKHIANATAN & TOHMAHAN,
..kita TAMPAL dengan KESABARAN pengawal EMOSI..
HATI yang di dalam KETAKUTAN,
..kita TAMPAL dengan KETAQWAAN pendinding DIRI..
HATI yang di dalam KERAGUAN,
..kita TAMPAL dengan KEYAKINAN petunjuk ALLAHuRABBI..
HATI yang di dalam KEKECEWAAN,
..kita TAMPAL dengan KEPASRAHAN mencari redha ILAHI..

Sesungguhnya DUHAI HATI ~
Apa jua RINTANGAN dan DUGAAN yang hadir mencalar balar ~
Adalah UJIAN sepanjang KEHIDUPAN ~
Maka TABAH, SABAR, TAQWA, YAKIN dan PASRAH mendepani jalan ~

Belanja kahwin MAHAL.....


Belanja kahwin mahal punca ramai pemuda Melayu berhutang.

16 Sept 2012 - “Walaupun sudah bercerai, namun beban untuk membayar hutang bank akibat wang hantaran tinggi dahulu masih lagi perlu saya bayar” menurut Hadzrien. Amran (bukan nama sebenar), berusia 25 tahun, tinggal di perumahan rumah pangsa di Vista Angkasa, Kuala Lumpur, baru melangsungkan perkahwinan dengan isterinya kira-kira setahun lalu. Tetapi, hantaran perkahwinan yang terlalu tinggi menyebabkan beliau kini berhutang hampir RM25,000 dan diburu oleh “Ah Long”.

“Saya tidak ada banyak pilihan,” jelas Amran yang merupakan seorang penyelia kilang di Petaling Jaya dan hanya memperoleh gaji RM1,500 sebulan.

“Tiap-tiap bulan saya terpaksa menghabiskan lebih dari separuh gaji saya hanya untuk membayar hutang.

“Puncanya, keluarga sebelah isteri saya meletakkan hantaran sebanyak RM12,000 kerana isteri saya seorang graduan diploma di universiti tempatan, dan termasuk belanja kahwin dan kenduri, semuanya berjumlah RM25,000.

“Jadi, dengan pendapatan saya yang berjumlah RM1,500, tolak bayaran sewa rumah dan ansuran kereta lagi, saya tidak mampu untuk menanggung hutang sebegini.”

Dalam adat perkahwinan Melayu-Islam di Malaysia, terdapat dua jenis hantaran, iaitu mas kahwin dan hantaran perkahwinan.

Mas kahwin, juga dikenali sebagai “wang belanja tubuh”, telah ditetapkan oleh jabatan agama Islam peringkat negeri, berbeza dengan hantaran perkahwinan.

Bayaran mas kahwin ini diwajibkan dalam agama Islam, manakala hantaran perkahwinan pula bersifat adat resam dan tidak ada kewajiban untuk membayarnya.

“Hantaran perkahwinan inilah yang membebankan orang ramai dari perkahwinan,” menurut Azri Mukhris, 27 tahun, seorang yang bakal melangsungkan perkahwinan pada hujung tahun ini.

Kata Azri, beliau dan pasangannya terpaksa mengikat perut sejak tahun lalu bagi memastikan mereka dapat berkahwin sebelum hujung tahun ini.

Ini kerana tekanan masyarakat itu sendiri menyebabkan ahli keluarga terpaksa meletakkan harga sedemikian.
“Semasa upacara merisik, kami membincangkan tentang harga hantaran, memandangkan pasangan saya merupakan seorang graduan ijazah sains, maka harganya lebih tinggi.

“Jadi sebab itu, mahu tidak mahu, saya perlu menyimpan agar dapat menyempurnakan majlis perkahwinan yang akan berlangsung pada hujung tahun ini.”

Bila ditanya berapa harga hantaran perkahwinan, Azri enggan memberi jumlah keseluruhannya.

“Apabila berkahwin ni, banyak komitmen yang perlu diberikan, antaranya perlu membayar hutang membeli rumah, membeli kereta, kemudian pinjaman peribadi untuk melangsungkan perkahwinan, dan beberapa tahun lagi apabila sudah mempunyai anak, kena membeli persiapan untuk kelahiran anak pula.

“Itu belum lagi bila anak itu sudah membesar dan sudah mula bersekolah,” kata Azri lagi.

Pasangan yang berkahwin di ibu kota setiap tahun dianggarkan 20,000 orang dengan kira-kira 10,000 orang adalah golongan muda.

Tujuh tahun pertama usia perkahwinan adalah tempoh paling kritikal kerana hampir 28 peratus perceraian berlaku dalam jangka waktu berkenaan.

“Kebanyakan kes perceraian dalam tempoh itu pula membabitkan pasangan muda berumur bawah 30 tahun ke bawah,” katanya.

Hadzrien (bukan nama sebenar), 26 tahun, bercerai dengan isterinya yang tiga tahun lebih muda berkata, masalah kewangan adalah punca perceraian dia dan isterinya.

“Saya telah berkahwin dengan bekas isteri saya setahun yang lalu, tetapi oleh kerana belanja perkahwinan yang tinggi, disamping masalah kewangan serta pinjaman bank terlalu tinggi menyebabkan saya terpaksa bercerai dengannya.

“Saya telah cuba berjimat cermat, tetapi tuntutan kehidupan di kota yang mahu perbelanjaan yang tinggi menyebabkan saya tidak mampu untuk menanggung isteri saya lagi, lalu kami membuat keputusan untuk bercerai,” kata Hadzrien lagi.

Katanya, pinjamannya yang berjumlah hampir RM20,000 itu terlalu sukar untuk dibayar, hinggakan dia terpaksa menjual kereta Proton Satrianya.

“Walaupun sudah bercerai, namun beban untuk membayar hutang bank akibat wang hantaran tinggi dahulu masih lagi perlu saya bayar.

“Perkahwinan sepatutnya menjadi masa yang terindah, tetapi kerana pinjaman serta kadar bunga tinggi, kerana hantaran perkahwinan yang tinggi menyebabkan ia menjadi azab dalam hidup saya,” kata Hadzrien lagi.

p/s: Carta jumlah wang hantaran mengikut taraf pendidikan di Malaysia. Nak ikut boleh, tidak mahu ikut pun boleh. Seeloknya ikutlah kemampuan sahaja. Tidak perlu ikut orang.

Sunday, September 16, 2012

Majlis Ilmu...

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

بِســـمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــم

Segala puji bagi ALLAH SWT
Selawat dan salam ke atas Nabi Muhammad Rasulullah SAW, keluarga dan para sahabat.

ADAB-ADAB SEMASA BERADA DALAM MAJLIS ILMU

1. Berwudhuk.

2. Solat sunat 2 rakaat sebelum majlis (dengan harapan ALLAH SWT mengampunkan dosa-dosa kita dan memudahkan kita untuk memahami, mengingati, mengamalkan dan menyampaikan)

3. Pakaian bersih dan menutup aurat.

4. Memakai wangi-wangian.

5. Pandang wajah guru yang mengajar. Anggaplah hadis-hadis yang kita dengar sebagai sabdaan-sabdaan Rasulullah SAW yang datang dari mulut baginda sendiri.

6. Mendengar dengan penuh konsentrasi. Ketika para Sahabat ra duduk dalam majlis ilmu yang dikendalikan oleh Rasulullah SAW, mereka tumpukan sepenuh perhatian hinggakan mereka tidak mempedulikan burung-burung yang bertenggek di atas bahu dan kepala mereka.

7. Anggaplah firman2 ALLAH dan hadis yang kita dengar itu seolah-olah inilah kali pertama kita mendengarkannya.

8. Duduk rapat-rapat (supaya syaitan tidak mencelah di antara kita dan supaya
ALLAH SWT satukan hati kita dan wujudkan sifat kasih sayang di antara kita). Ketika para Sahabat ra duduk dalam majlis ilmu yang dikendalikan oleh Rasulullah SAW, mereka duduk rapat-rapat hinggakan daun yang gugur dari pokok tidak jatuh ke tanah, tetapi jatuh ke riba dan bahu mereka.

9. Sebaik-baiknya duduk dalam posisi tahiyat awal dan kalau boleh, lutut kita bertemu dengan lutut si pembaca ta'alim. Kalau penat duduk tahiyat awal, bolehlah berubah kepada posisi tahiyat akhir. Kalau tidak mampu juga, bolehlah duduk bersila. (Cara duduk beginilah yang ditunjukkan oleh Malaikat Jibril AS ketika dia datang kepada Rasulullah SAW dan mengajukan beberapa soalan kepada Baginda, dengan disaksikan oleh para Sahabat.)

10. Apabila disebut nama ALLAH, kita sambut dengan Allahu azza wajalla atau Allahu Jalla Jallaluhu atau Subhanallah.

11. Apabila disebut nama Rasulullah SAW, hendaklah kita berselawat ke atas Baginda. (Malaikat melaknat orang yang tidak berselawat bila nama Baginda disebut)

12. Bila disebut nama para Sahabat atau Sahabiah, kita sambut dengan RadhiAllahu Anhu / Anha.

13. Bila disebut nama orang-orang alim (seperti tabi'en, imam-imam besar dan sebagainya), kita sambut dengan Rahmatullah Alaih.

14. Bila disebut nama musuh-musuh ALLAH (seperti Iblis, Fir'aun, Namrud, Abu Lahab dan sebagainya), kita dibolehkan menyambut dengan Laknatullah Alaih.

15. Rasa gembira bila disebut tentang syurga dan takut bila disebut tentang neraka. (Kalau tak boleh, cuba latih diri)

16. Jangan mengganggu perjalanan majlis (seperti berbual-bual atau bersalam-salam bila datang lewat)

17. Menghadiri majlis ilmu adalah lebih baik daripada melakukan ibadat-ibadat sunat yang dilakukan bersendirian. Seandainya kita datang ke masjid dan mendapati majlis ilmu sedang berlangsung, kita digalakkan supaya duduk dalam majlis ilmu dan menggantikan solat tahiyatul masjid dengan zikir "Subhanallah Walhamdulillah Wa lah Ilaha Ilallah Wallahu Akbar" 3 kali.

18. Ta'azeem bil Qalbi (Memuliakan dan membesarkan majlis di dalam hati)

19. Tashdiq wa Yaqin (Membenarkan dan meyakini akan segala yang didengar)

20. Tabligh wa Amal (Mempunyai niat untuk menyampaikan dan mengamalkannya)

21. Off atau silent kan telefon bimbit.

APABILA KITA MENUNAIKAN HAK MENDENGAR, ALLAH AKAN MEMUDAHKAN 3 PERKARA :
1. ALLAH mudahkan ilmu masuk ke dalam hati kita.
2. ALLAH mudahkan kita untuk memahami apa yang kita dengar.
3. ALLAH mudahkan kita untuk bercakap tentang ilmu tadi bila diperlukan.


AGAMA ITU NASIHAT
Daripada Abu Ruqaiyyah Tamim ibn Aus al-Daarie ra bahawa Rasulullah SAW telah bersabda : “Agama itu adalah nasihat. Kami berkata : Untuk siapa? Baginda bersabda : Untuk ALLAH, untuk kitabNYA, untuk RasulNYA, untuk para lmam kaum muslimin dan untuk umat lslam seluruhnya.” (Hadis riwayat al-lmam Muslim)

UBAT HATI
Berkata seorang ulama, Ibrahim Al-Khawas ra : “ Sesungguhnya ubat hati itu ada lima perkara, maka ubatilah hati kamu dengan lima perkara tersebut. Pertamanya, bacalah Al-Quran dengan menghayati isi kandunganya. Kedua, mengosongkan perut dari terlalu kenyang atau berpuasa. Ketiga, bangun ( beribadah ) di waktu malam. Keempat, menghampirkan diri kepada ALLAH ( beribadah ) di sepertiga malam dan yang kelimanya, sentiasa bersama-sama di dalam majlis orang-orang yang soleh ”.

KATA-KATA LUQMAN AL HAKIM MENGENAI MAJLIS ILMU.
“Wahai anakku, sentiasalah kamu berada dalam majlis alim ulama (orang-orang yang soleh) dan dengarlah kata-kata hikmah dari mereka. Sesungguhnya ALLAH SWT akan menghidupkan hati yang mati dengan cahaya hikmah sebagaimana ALLAH SWT menghidupkan bumi dengan siraman hujan yang lebat ”.

♥ ﷲ ♥

~ 1 Zulkaedah 1433H ~