Sunday, June 12, 2011

A story about a Muslim Marriage meeting


Bernikah Lebih Baik

Once there was a very handsome, pious, well educated young man, whose parents emphasised for him to get married. they had seen so many marriage proposals, and he had turned them all down. The parents thought it was becoming a little ridiculous or suspected that he may have someone else in mind.

However every time the parents left the girls house, the young man would always say ‘she’s not the one!’
The young man only wanted a girl who was religious and practicing, however one evening his mother arranged for him, to meet a girl, who was religious, and practicing.
On that evening, the young man, and girl, were left to talk, and ask each other questions. (As one would expect).
The young man, being a gentleman that he was allowed, the lady to ask first.
The young girl asked the young man so many questions, she asked about his life, his education, his friends, his family, his habits, his hobbies, his lifestyle, his enjoyment, his pastimes and his experiences.
The young man replied to all of her questions, without tiring, and politely, with a smile the young girl took up nearly all of the time, over an hour, and felt bad, and asked the young man do you have any questions?
The young man said, it’s ok. I only have 3 questions…
The young girl thought, wow, only 3 questions okay, shoot.
The young man’s first question was,
Who do you love the most in the world, someone who’s love nothing would ever overcome?
She said, this is an easy question; my mother, he smiled
second question, he asked, you said that you read a lot of Qur’an, could you tell me which Surahs you know the meaning of?

Hearing this she went red and embarrassed and said, I do not know the
meaning of any yet, but I am hoping to soon insha’allah I’ve just been a bit busy.
The third question the young man asked, was I have been approached for my hand in marriage, by girls that are a lot more prettier than you, why should I marry you?
Hearing this the young girl was outraged, she stormed off to her parents with fury, and said I do not want to marry this man he is insulting my beauty and intelligence.
And the young man and his parents, were once again, left without an agreement of marriage.
This time, the young mans parents were really angry, and said what did you do to anger that girl, the family were so nice, and pleasant and they were religious like you wanted. What did you ask the girl?? Tell us!
The young man said, firstly I asked her, who do you love the most? she said, her mother,
The parents said so, what is wrong with that??
The young man said, ‘no one, is Muslim, until he loves Allah, and his messenger (saw) more than anyone else in the world’
If a woman loves Allah and the Prophet (pbuh) more than anyone, she will love me and respect me, and stay faithful to me, because of that love, and fear for Allah (swt). and we can share this love, because this love is greater than lust for beauty.
The young man said, then I asked, you read a lot of Qur’an, can you tell me the meaning of any Surah?
And she said no, because I haven’t had time yet. so I thought of that hadith ‘ALL humans, are dead except for those who have knowledge’
She has lived 20 years and not found ANY time, to seek knowledge, why would I marry a woman, who does not know her rights, and responsibilities, and what will she teach my children, except how to be negligent, because the woman IS the madrasa (school) and the best of teachers.
And a woman who has no time for Allah, will not have time for her husband.
The third question I asked her was, that a lot of girls, more prettier than her, had approached me for marriage, why should I choose you?
That is why she stormed off, getting angry.
The young man’s parents said that is a horrible thing to say, why would you do such a thing, we are going back there to apologise.
The young man said I said this on purpose, to test whether she could control her anger.
The Prophet (saw) said ‘do not get angry, do not get angry, do not angry’ when asked how to become pious; because anger is from Satan.
If a woman cannot control her anger with a stranger she has just met, do you think she will be able to control it with her husband??

So, the moral of this story is, a marriage is based on,
knowledge, not looks,
practice, not preaching,
Forgiveness, not anger,
spiritual love, not lust.
and compromise

One should look for a person who
1) Has love for Allah (swt) and the messenger (saw)
2) Has knowledge of the deen, and can act upon it.
3) can control her anger and another important and crucial factor. that she be
4) willing to compromise.
And it goes both ways, so women seeking a man, should look for the same things.
Insha’allah, may Allah make every marriage a success, and let us create Love for Allah and his messenger(saw) so that Allah can bless us, and create love in our lives.

Our beloved prophet (may peace be upon him) said
  There is no better structure founded in Islam other than marriage.

Allah berhak beri hidayah walaupun terhadap insan lakukan kejahatan

 

ALLAH berfirman yang bermaksud: “Sesiapa yang Allah kehendaki mendapat hidayah nescaya dilapangkan dadanya untuk menerima Islam dan sesiapa yang dikehendaki sesat nescaya dijadikan dadanya sempit dan sesak seolah-seolah naik ke langit. Demikianlah Allah menimpakan kehinaan kepada orang yang tidak beriman.” (Surah al-An’am, ayat 125).

Allah Maha Berkuasa untuk mengurniakan petunjuk dan hidayah-Nya kepada yang dikehendaki-Nya. Hanya dengan petunjuk dan hidayah Allah saja dapat mengubah manusia dan kehidupannya dari kekufuran kepada keimanan, kemaksiatan kepada ketakwaan, kezaliman kepada keadilan, kegelapan kepada cahaya kebenaran dan kegelisahan kepada ketenangan jiwa.

Hidayah itu ialah petunjuk yang dikurniakan Allah kepada manusia untuk mencapai kesejahteraan serta kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Islam menganjurkan umatnya supaya sentiasa memohon hidayah petunjuk daripada Allah ke arah jalan yang benar.
Lebih-lebih lagi perjalanan hidup berliku yang ditempuhi setiap insan menuntut ketabahan, kesabaran dan pertolongan Ilahi supaya dia berjaya dalam hidup. Oleh itu, Islam mensyariatkan amalan berdoa dan memohon petunjuk daripada Allah.
Hidayah petunjuk yang dianugerahkan Allah sebenarnya tidak boleh diukur berdasarkan keadaan lahiriah semata-mata. Sebaliknya, ia bergantung kepada keimanan dan ketakwaan yang bertapak kukuh dalam jiwa. Dalam erti kata lain, Allah mengurniakan hidayah kepada hamba yang beriman dan bertakwa.
Hidayah Allah tidak ada kaitan dengan hubungan pertalian darah atau kekeluargaan. Seseorang yang taat dan hidup bahagia dengan hidayah Allah, tidak semestinya anaknya juga begitu. Contohnya, Nabi Nuh dan anaknya serta Nabi Muhammad SAW dengan bapa saudaranya, Abu Lahab.
Ada juga orang fasik yang sentiasa bergelumang dosa tetapi anaknya seorang yang salih dan patuh ajaran Islam. Ini berlaku kepada Nabi Ibrahim dengan ayahnya, pengukir patung berhala.
Oleh sebab itu, kita tidak boleh menyangka orang yang selalu melakukan kejahatan tidak akan mendapat hidayah Allah kerana hanya Allah yang berkuasa memberi hidayah kepada sesiapa dikehendaki-Nya.
Nabi dan rasul, tugasnya menyampaikan kerana tidak ada siapa yang dapat memberi petunjuk melainkan Allah.
Firman Allah yang bermaksud: “Tidaklah kamu diwajibkan (wahai Muhammad) menjadikan mereka (yang kafir) mendapat petunjuk, (kerana kewajipanmu hanya menyampaikan petunjuk) akan tetapi Allah juga yang memberi petunjuk (dengan memberi taufik) kepada sesiapa yang dikehendaki-Nya (menurut undang-undang peraturan-Nya). Dan apa juga harta halal yang kamu belanjakan (pada jalan Allah) maka (faedahnya dan pahalanya) adalah untuk diri kamu sendiri. Dan kamu pula tidaklah mendermakan sesuatu melainkan kerana menuntut keredaan Allah. Dan apa juga yang kamu dermakan dari harta yang halal akan disempurnakan (balasan pahalanya) kepada kamu, dan (balasan baik) kamu (itu pula) tidak dikurangkan.” (Surah al-Baqarah, ayat 272)
Ibnu Kathir dalam kitab tafsirnya, Tafsir al-Quran al-Azim ada menyebut sebab turunnya ayat kerana ada beberapa orang Islam yang bersedekah kepada fakir miskin penduduk Madinah, kemudian setelah ramai bilangan yang masuk Islam, maka Rasulullah SAW menegah memberi sedekah kepada orang musyrikin.
Tujuannya ialah untuk menarik mereka supaya menganut Islam kerana Rasulullah SAW sangat mengambil berat akan hal ehwal mereka. Lalu turunlah firman Allah yang memerintahkan Baginda supaya terus memberikan sedekah kepada mereka.
Biarpun hidayah menjadi milik mutlak Allah, namun umat Islam dituntut untuk menyampaikan dakwah Islam kepada bukan Islam supaya beriman kepada Allah.
Dakwah yang baik dan berkesan hendaklah berpaksikan kepada tiga kaedah iaitu berdakwah secara hikmah atau bijaksana, memberi pengajaran atau contoh teladan baik dan bertukar fikiran atau berdialog dengan cara lebih baik.
Oleh itu, setiap Muslim perlu mempergiatkan usaha untuk berdakwah dan bersabar dalam menjalankan usaha dakwah Islamiah kepada bukan Islam supaya ia mencapai matlamat yang disasarkan iaitu keadilan Islam, keharmonian hidup serta kecemerlangan dalam hidup.
Hidayah dan petunjuk Allah akan sentiasa mengiringi setiap langkah dan jalan diterokai orang beriman dan bertakwa kepada-Nya dalam rangka untuk menegakkan kalimah Allah di muka bumi ini.
Oleh Engku Ahmad Zaki Engku Alwi

Masuk Syurga Kerana Bulu Mata

Diceritakan di Hari Pembalasan kelak, ada seorang hamba Allah sedang diadili. Ia dituduh bersalah, menyia-nyiakan umurnya di dunia untuk berbuat maksiat. Tetapi ia berkeras membantah. "Tidak! Demi langit dan bumi sungguh tidak benar. Saya tidak melakukan semua itu." "Tetapi saksi-saksi mengatakan engkau betul-betul telah menjerumuskan dirimu sendiri ke dalam dosa," jawab malaikat. Orang itu menoleh ke kiri dan ke kanan, lalu ke segenap penjuru. Tetapi anehnya, ia tidak menjumpai seorang saksi pun yang sedang berdiri.


Di situ hanya ada dia sendirian. Makanya ia pun menyanggah, "Manakah saksi-saksi yang kau maksudkan? Di sini tidak ada siapa kecuali aku dan suaramu." "Inilah saksi-saksi itu," ujar malaikat. Tiba-tiba mata hamba Allah tersebut bicara, "Saya yang memandangi." Disusul oleh telinga, "Saya yang mendengarkan." Hidung pun tidak ketinggalan, "Saya yang mencium." Bibir mengaku, "Saya yang merayu." Lidah menambah, "Saya yang mengisap." Tangan meneruskan, "Saya yang meraba dan meramas." Kaki menyusul, "Saya yang dipakai lari ketika diketahui orang akan maksiat tersebut.""Nah! Kalau kubiarkan, seluruh anggota tubuhmu akan memberikan kesaksian tentang perbuatan aibmu itu", ucap malaikat. Orang tersebut tidak dapat membuka sanggahannya lagi. Ia putus asa dan amat berduka, sebab sebentar lagi bakal dihumbankan ke dalam Neraka Jahanam. Padahal, rasa-rasanya ia telah terbebas dari tuduhan dosa itu. Tatkala ia sedang dilanda kesedihan itu, tiba-tiba terdengar suara yang amat lembut dari selembar bulu matanya: "Saya pun ingin juga mengangkat sumpah sebagai saksi.""Silakan", kata malaikat. "Terus terang saja, menjelang ajalnya, pada suatu tengah malam yang lengang, aku pernah dibasahinya dengan air mata ketika ia sedang menangis menyesali perbuatan buruknya. Bukankah nabinya pernah berjanji, bahawa apabila ada seorang hamba kemudian bertaubat, walaupun selembar bulu matanya saja yang terbasahi air matanya, namun sudah diharamkan dirinya dari ancaman api neraka? Maka saya, selembar bulu matanya, berani tampil sebagai saksi bahawa ia telah melakukan taubat sampai membasahi saya dengan air mata penyesalan."Dengan kesaksian selembar bulu mata itu, orang tersebut dibebaskan dari neraka dan dihantarkan ke syurga. Sampai terdengar suara bergaung kepada para penghuni syurga: "Lihatlah, Hamba Allah ini masuk surga kerana pertolongan selembar bulu mata."

Taubatlah dengan sebenar-benar taubat yang penuh penyesalan dan keikhlasan sebelum terlambat.. Allah itu Maha Pengampun